Sunday, 14 December 2014

Nyai Ratmi

Nyai Ratni 

“Sampai di sini saja perjumpaan kita, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suara merdu ummahat berkacamata yang tetap tampak manis di umurnya yang kian senja itu mengmasiri sebuah program kuliah subuh di salah satu stasiun radio swasta. Sembari tersenyum kepada operator sound di hadapannya, ia pun melepas headset yang membelit bagian atas dari jilbab kuningnya. Sembari membetulkan sedikit posisi kacamata minusnya, wanita setengah baya yang usia 49 tahun itu pun menggapit tas tangan kulit dengan tangan kanannya dan kemudian berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar, sang operator sempat memajukan tangannya untuk mengajak ustadzah itu bersalaman. Ustadzah itu pun menyambut tangan sang operator tanpa menyentuhnya sedikitpun sambil tetap menundukkan pandangan dan bergumam, “Assalamualaikum.” Tapi hal itu sudah cukup membuat sang operator menelan ludahnya karena terpana akan keindahan gundukan kembar di dada sang ustadzah yang sekilas tercetak di jubahnya ketika ia menunduk.

Baru saja keluar ruang siaran, sang ustadzah berkacamata itu langsung disambut oleh seorang laki-laki berjanggut tipis yang berumur sekitar 27 tahun. Tubuhnya begitu kekar dan tegap dibalut baju koko hijau muda, peci putih, dan celana panjang hitam dari bahan kain. Hidungnya yang mancung dan tulang pipinya yang kokoh memperkuat aura keshalihan dan kelelakiannya yang pasti menarik setiap wanita yang melihatnya termasuk ummahat berjilbab panjang di hadapannya yang tengah berdesir sedikit darahnya berhadapan dengan ikhwan yang jelas lebih tampan, lebih tegap, dan lebih muda dari suminya kini. “Assalamualaikum, Nyi,” ujar lelaki itu membuka suara.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar mas Tatang?” Jawab sang ustadzah yang baru selesai siaran itu.

“Alhamdulillah ana bi khoir, Nyi. Saya baik-baik saja. Bagaimana tadi siarannya?” Lelaki tampan yang ternyata bernama Tatang itu sengaja atau tidak kian mendekat ke tubuh mungil lawan bicaranya yang tampak begitu alim dan lembut itu.

Jantung sang ustadzah itu berdetak lebih kencang dari keadaan normal menyadari gerakan ikhwan tersebut, wajahnya kian tertunduk, walau tanpa bisa dipungkiri, ketampanan dan aura kejantanan yang terpampang jelas di wajah Tatang membuatnya tak bisa menahan diri untuk mencuri-curi pandang pada Tatang, “Aa…aall…alhamdulillah, lancar-lancar saja masi.” Ia pun sampai tergagap-gagap karenanya.

“Krriiiing….krriiiing….,” sebuah bunyi dari handphone di kantong sang ustadzah pun menetralisiri situasi yang hampir tak terkendali itu, sampai-sampai sang ustadzah itu pun menghela nafas panjang saking leganya. Ia merasa Allah telah menyelamatkannya dari hawa nafsu yang hampir tak bisa ditahannya itu. Ia bergeser dan sedikit berpaling ke sebelah kanan,”sebentar ya, mas.”

“Iya, Tafadhol. Silahkan, Nyaii.”

“Assalamualaikum,” ujar sang ustadzah memberi salam pada lewan bicaranya di telepon yang telah amat dikenalnya.

“Waalaikumsalam, Ibu. Habis siaran ya? Kapan kamu kembali ke Bandung?” Tanya seorang lelaki dengan logat sunda-nya yang khas di ujung telepon.

“Hmm…kayaknya baru malam ini, A. Nanti mau ke rumah Ummu Abdillah dulu di Radio Dalam. Memang ada apa A? Kapan pulang?” Jawab ustadzah tersebut dengan suara yang sedikit dilembut-lembutkan karena lawan bicaranya itu adalah sang suami tercinta. Namun itu sudah cukup membuat Tatang yang tanpa ia sadari terus memandangi wajah putih sendunya yang beitu mempesona sedikit bergetar imannya. Sebagai lelaki, Tatang pun tak bisa bohong bahwa ummahat di hadapannya masih terlihat menarik walau telah memiliki beberapa orang anak.

“Nggak ada apa-apa kok, tapi kayaknya Aa sama Rini bakal lebih lama di sini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Jadi tolong jaga anak-anak ya, nggak apa-apa kan, teteh?” Lelaki yang dipanggil Aa tadi menjelaskan.

Walau hatinya sedikit perih, namun ia memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan itu sekenanya, “Owh, nggak apa-apa kok, A. Ratni nggak apa-apa di sini. Biar Ratni yang urus anak-anak. Ya sudah, A, lagi buru buru, assalamualaikum.” Ustadzah yang ternyata bernama Ratni itu langsung menutup telepon tanpa basa-basi lagi.

Ya, ustadzah yang baru saja siaran itu adalah Teh Ratni, istri pertama seorang Kiyai yang alim dan begitu cantik. Saat ini, Sang Suami tengah berada di Surabaya bersama Rini, istri kedua-nya, guna suatu urusan dakwah. Dan baru saja suaminya itu menelepon karena urusan itu menuntut tambahan waktu. Walau ia sudah berusaha untuk ikhlas, namun Teh Ratni hanyalah seorang wanita biasa yang punya rasa cemburu dan butuh perhatian. Sudah satu bulan Suaminya berada di Surabaya bersama Rini, madunya itu. Dan selama sebulan pula Ibu Ratni terlarut dalam kesendirian. Tak hanya fisiknya yang lelah, batinnya pun lelah, rindu belaian mesra sang suami yang dicintainya.

Seperti tahu benar hal itu, Tatang kembali menggeserkan tubuhnya mendekati Teh Ratni. Dengan penuh aura kelelakian, ia pun membisiki telinga kiri Bu Ratni,” Nyai keliatan capek, istirahat saja dulu di ruangan saya, sebentar saja.”

Bagaikan tersihir, Bu Ratni pun menganggukkan kepalanya dengan anggun. Ummahat yang begitu indah dipandang inipun menggoyang-goyangkan bongkahan pantatnya yang tercetak jelas di bagian belakang jubah putihnya mengikuti Tatang. Goyangan yang sedikit erotis dan menggairahkan itu sudah pasti mampu menggugah iman setiap lelaki yang memandangnya. Walau telah beberapa kali melahirkan anak lewat vaginanya yang mungil nan imut, tubuh Nyai Ratni tetap terlihat seksi dan menggairahkan. Ia adalah sosok perempuan sunda yang mampu menjaga bentuk tubuhnya walau telah termakan usia. Walau telah berusaha menutup diri dengan jubah dan jilbab panjang berwarna kuning, tonjolan payudara Nyai Ratni yang alim dan shalihah ini dapat kita lihat jelas, begitu montok dan berisi, mengundang setiap insan untuk meremas-remasnya. Apalagi pagi ini ia memakai jubah yang lebih ketat dari biasanya.

Begitu melihat Tatang memasuki sebuah ruangan, Nyai Ratni pun berhenti sejenak. Sesaat ia membaca papan nama di depan ruangan tersebut, “Tatang Zaidi, Kepala Divisi Da’wah dan Syari’at Islam.” Dengan perasaan tenang, karena yakin Tatang yang baru dikenalnya di stasiun radio ini sejak sebulan yang lalu itu adalah seorang ikhwan yang baik-baik, Nyai Ratni pun memasuki ruangan yang hanya berukuran 6 x 4 meter itu. Tanpa disuruh, Nyai Ratni langsung duduk di sofa yang berada di dekat pintu. Seperti kata Tatang tadi, Nyai Ratni memang sedang lelah. Tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah batinnya.

“Nyai Ratni Mau minum apa?” tanya Tatang berbasa-basi sambil berjalan menuju dispenser. “Teh manis, mau?”

“Boleh, mas. Gulanya sedikit saja ya,” ujar Nyai Ratni sambil meletakkan tas tangannya di atas meja kaca di depannya. Ia tak merasa canggung sedikitpun. Walaupun ia hanya berdua saja dengan seorang lelaki yang notabene bukan mahromnya di ruangan itu, namun pintu ruangan itu dibiarkan terbuka oleh Tatang. Ia pun semakin yakin bahwa Tatang tak akan berbuat macam-macam pada dirinya.

Tatang segera pergi ke dapur mengambil minuman segar agar tamu istimewanya ini tak menunggu terlalu lama, Tatang langsung saja membawakan cangkir putih berisikan teh manis itu dan meletakkannya di depan ummahat berparas manis nan berbodi indah itu. “Silahkan teh manisnya, Nyi.”

“Iya, syukron ya mas. Terima Kasih,” ujar Bu Ratni. Ia langsung meraih pegangan cangkir yang dihidangkan di hadapannya itu sembari menyeruput perlahan teh manis yang begitu nikmat itu dengan bibirnya yang mungil dan berwarna merah muda. Sedikit demi sedikit, Ibu Ratni menghabiskan teh manis yang terasa begitu lezat di permukaan lidahnya itu. Ia rasakan tubuhnya terasa panas seketika dan sedikit bergetar, namun ia membiarkannya. Mungkin hanya sedikit efek hangat dari teh manis ini, pikir Bu Ratni.

“Ada apa, Nyi. Kok kelihatannya gelisah begitu?” Bu Ratni mulai menyadari kalau ini bukan sekedar efek hangat dari teh manis biasa. Tatang pasti telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya tadi. Kurang ajar sekali ikhwan ini, pikirnya. Tubuhnya mulai berkeringat. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan kelopak matanya begitu berat. Dengan mata setengah menutup, ia menggaruk-garuk kecil pundak kirinya dengan tangan kanannya yang lentik karena terasa sedikit gatal. Untuk mengurangi rasa kantuk yang menerpa, Bu Ratni mencoba mengalihkan pandangan pada jam yang ada pada dinding di belakangnya., namun usahanya itu tidak membuahkan hasil.

“Tidak, tidak apa-apa kok mas Tatang,” Tatang yang jauh lebih muda itu kini menyadari bahwa istri pertama Ustadz Haji Maulana itu telah masuk dalam jebakannya dan sebentar lai akan memasrahkan tubuh molek nan sintal miliknya untuk digagahi Tatang dengan penuh keikhlasan. Tatang pun semakin tak sabar dan segera mengambil tempat di sebelah kiri Nyai Ratni. Ia genggam tangan kiri Bu Ratni yang halus dengan tangan kanannya yang cukup kasar. Sementara itu tangan kirinya mulai melakukan serangan fajar dengan mengelus-elus pipi sebelah kanan Bu Ratni yang lembut bukan main dan penuh aroma kewanitaan. Ia hadapkan wajah ummahat manis berjilbab yang tengah berjuang melawan sensasi aneh yang disebabkan teh manis ajaib buatan Tatang tadi agar menghadap ke wajahnya. Ditatapnya mata yang tengah berpendar di balik kaca mata itu dengan penuh kemesraan.

“mas…..Tatang. Jangan ya, kita kan bukan mahrom. Lagipula nanti kalau ketahuan orang bagaimana?” Tatang tak menganggap itu sebagai penolakan. Bu Ratni tak sedikitpun menarik telapak tangan kirinya yang tengah diremas-remas penuh nafsu oleh tangan kanan Tatang, lagipula Bu Ratni mengucapkannya dengan sedikit berbisik, penuh kelembutan dan keteduhan bagai berbicara pada suaminya sendiri. Dan ketika Tatang menarik lembut kepalanya agar wajah mereka mendekat, Bu Ratni pun tak berpaling atau berontak sedikitpun. Ia mulai menikmati sensasi seksual yang begitu nikmat menggerayangi tubuhnya. Apalagi sudah sekitar 2 minggu suaminya tak sekali pun menyentuhnya. Sebelum Aa berangkat ke Surabaya, ia sedang dalam keadaan haidh sehingga tak bisa digauli. Baru kemarin darah haidhnya berhenti. Dengan kata lain, saat ini Bu Ratni sedang dalam masa subur sehingga membuat birahinya begitu meledak-ledak.

“Tenang saja, Bu. Tatang nggak akan nyakitin Nyai. Tatang cuma mau ngasih Nyai kenikmatan yang nggak akan pernah lupa. Lagipula, nggak akan ada yang melihat kita di sini.” Kini bibir dua insan yang bukan mahrom ini hanya berjarak sekitar 2 cm. Ratni pun telah memejamkan matanya sebagai tanda kepasrahan dirinya akan apa yang bakal terjadi setelah ini. Walaupun telah beristri dan mempunyai 2 orang anak, Tatang tak pernah menghilangkan sosok ummahat bertubuh bahenol asal sunda yang sering mengisi imajinasi liarnya ketika bermasturbasi. Kini, langsung di hadapannya, telah terdiam seorang ummahat berjilbab kuning dan berjubah putih idamannya itu sedangkan ia sendiri memakai baju koko hijau muda lengkap dengan peci putihnya sebagai tanda kealiman dan keshalihan keduanya. Namun kini sang maswat dengan nakalnya telah memejamkan mata dan sang ikhwan pun tengah asyik meremas-remsa tangan sang maswat dengan syahwat membara. Tanpa terasa keduanya telah berada di tepi jurang perzinahan.

Melihat Nyai Ratni yang tak memberikan sedikitpun perlawanan dan malah telah begitu pasrah pada keperkasaan dirinya, Tatang pu mengambil inisiatif.Sedikit demi sedikit ia menarik wajah Nyai Ratni ke wajahnya dan…hmmm…hhmmmch…..hhmmmmpff…bibir seksi nan indah seorang Nyai Ratni telah bersarang di bibirTatang. Tatang pun tak tinggal diam, dibelahnya sedikit demi sedikitbibir ummahat yang juga merupakan ustadzah terkenal itu dengan mendorong lidahnya yang kasar dan hangat. Tanpa kesulitan berarti, di mana Nyai Ratni pun telah begitu terangsang oleh tatapan birahi Tatang dan gairahnya sendiri yang sedang berada di puncak, lidah Ahmda telah mampu menembus rongga mulut Ratni yang alim itu. Tak lama kemudian, kedua anak Adam yang terkenal dengan keshalihannya itu telah saling hisap bibir pasangannya diiringi pergulatan lidah di dalamnya yang begitu seru dan basah. Entah karena reflek atau memang disengaja, tangan Nyai Ratni ganti merangkul Tatang hingga keduanya larut dalam pusaran syahwat yang begitu menggairahkan.

Sebagai catatan, selama berbagai aktivitas itu terjadi, pintu ruangan Tatang, tempat semua kemesuman itu terjadi, sama sekali tidak tertutup. Pintu itu terbuka lebar, sehingga orang-orang yang berjalan dekat ruangan itu pasti bisa melihat segalanya. Karena itu, Tatang berusaha membuat suara sesedikit mungkin. Namun untungnya, ruangan Tatang berada di ujung sebelah barat kantor radio tersebut, sedikit terpisah dengan ruangan kantor yang lain. Sehingga suara dari ruangan Tatang tak akan bisa terdengar dari luar atau bahkan tertelan hiruk-pikuk kesibukan kantor di pagi hari. Ditambah lagi ruangan Tatang juga dilapisi dengan peredam suara karena ia sering mengedit siaran radio di ruangan tersebut.

‘Masya Allah….”, guman Tatang. Dalam hati Tatang sangat kagum dengan ulah ustazah ini. Tanpa disangka sama sekali oleh Tatang, Nyai Ratni bergerak begitu aktif. Tampaknya Nyai Ratni telah begitu kuat menahan gairah seksualnya selama ini sehingga terasa bagaikan bom waktu yang menggemparkan ketika akan dilepaskan. Bibir dan lidah ustadzah kondang yang pernah dinobatkan sebagai ibu teladan itu silih berganti memagut, memberi kenikmatan erotik pada bibir lelaki beristri di hadapannya. Tampak keduanya tak lagi mengingat status dan kedudukan diri mereka masing-masing. Keduanya telah hanyut dalam gelombang syahwat yang menenggelamkan hasrat mereka berdua dalam lautan birahi kebinalan. Tatang yang merasa lebih berpengalaman membalas dengan tenang pagutan ummahat berjubah putih itu, dijulurkannya lidahnya bagai anjing kelaparan agar segera dihisap oleh ummahat di hadapannya itu,”hmmmm…hmmmm….hhmmppph….hhhmmmmpppf.”

“Duuh, Teteh. Kontol Tatang jadi tegang neh. Tetek Nyai merangsang banget, bikin horny. Boleh gak Tatang pegang, sedikit saja?” Tatang mulai menunjukkan niatnya secara terang-terangan. Ia mencoba memancing libido yang selalu tersimpan rapat-rapat dalam diri seorang ibu shalihah yang tengah memagut liar bibirnya itu.

Entah setan apa yang tengah beraksi, atau memang dorongan seksual ini begitu kuat. Nafas Nyai Ratni mulai tak beraturan dan jantungnya pun berdetak lebih kencang dari kecepatan normal. asa kantuk yang tadi menderanya, berubah menjadi keinginan untuk memasrahkan diri secara total kepada lelaki muda yang begitu tampan di depannya. Dengan lembut dan sedikit bergetar, ia ucapkan dengan pasti, “Iya Mas….Pegang aja tetek Nyai Ratni, lakukan sesuka kamu…”

Mendengar kata-kata penuh penyerahan diri seutuhnya dari seorang ustadzah yang mulai mendesah-desah tak karuan itu, tubuh Tatang pun semakin panas. Tangan kirinya mulai menyelusup masuk ke balik jilbab panjang Nyai Ratni. Ia meraba-raba peyudara suci nan terawat milik ustadzah cantik itu secara perlahan. Ia ingin membuat Ratni merasakan sendiri getaran syahwat yang menggebu-gebu setelah bagian sensitifnya ini jatuh ke tangan Tatang. Benarlah, sesaat kemudian, desahan-desahan pelan diselingi erangan binal meluncur di antara bibir sang isteri Ustadz itu, “ssshh…akkhhhh….maasssshhh…mas Tatang, enak masssshh….!!”

“Iya ku sayang, Tatang tahu. Pintunya Tatang tutup dulu ya, biar kita tambah bebas.” Ratni tak langsung menjawab, bibirnya kelu dan hanya kembali memagut bibir Tatang untuk meredakan gairahnya. Namun sebuah cubitan nakal di tangan kanan Tatang-lah yang kemudian menjadi lampu hijau bagi Tatang. Ia pun melepaskan kulumannya pada bibir Nyai Ratni yang nampak sedikit kecewa karenanya.

Dengan jantannya, Tatang pun merebahnkan ustadzah yang sudah horny itu di atas sofa. Ukuran sofa yang kecil memaksa kaki Nyai Ratni tidak bisa selonjor dengan penuh namun sedikit naik karena tertopang pegangan sofa di seberang. Dalam keadaan tubuh ‘siap entot’ itu, Tatang meninggalkan ummahat seksi itu sesaat. Ia berjalan ke arah pintu ruangan dan menutup serta menguncinya. “Cklik…” bunyi itu seraya menandakan telah terkuncinya iman kedua insan yang sebenarnya telah mempunyai pasangan masing-masing ini, dan tinggallah nafsu syaithan yang menjadi hakim di ruangan itu.

Tatang pun kembali mendatangi sang bidadari surga pujaan hatinya yang telah terkapar menahan birahi di atas sofa. Subhanallah, gumamnya dalam hati. Tanpa dinyana pula, bidadari berjilbab itu mendesah dengan binalnya, “Mas Tatang, sini dong!” Nyai Ratni yang manis itu telah membuka jalan bagi imaji liar Tatang dengan desahan lembut menggemaskan yang pasti merangsang birahi setiap pria yang mendengarnya. Tatang langsung melepas kancing baju kokonya dari atas ke bawah satu per satu. Sesaat kemudian, tubuh tegap laksana anggota TNI itu telah terpampang jelas di depan Nyai Ratni yang tengah membuncah nafsunya hingga memaksa ummahat itu menelan dalam-dalam ludahnya, “Mas Tatang…tubuh kamu seksi banget. Nyai Ratni jadi nggak tahan…”

Komentar binal seorang ustadzah terkenal itu membuat syahwat Tatang menggelegak. Ia langsung berlutut di sisi kaki Nyai Ratni yang penuh kepasrahan hati menelantangkan tubuh sintal khas sundanya si atas sofa. Tatang lepaskan sepatu hitam yang melekat di kaki isteri Ustadz besar itu, dan mengendus-endus bau kaki yang menyengat nan menggairahkan di kaos kaki Ratni. Ia tanggalkan kaos kaki berwarna krem itu dan langsung mencaplok jemari kaki Ratni yang lentik dengan mulutnya.

Nyai Ratni sampai terkaget-kaget dibuatnya. Tak pernah sekalipun suaminya yang shalih itu memanjakan birahinya seperti ini. Suaminya hanya menganggap bersenggama adalah cukup dengan memasukkan kontol ke dalam memek wanita, dan setelah itu selesai. Mungkin ulama besar seperti beliau menganggap foreplay atau pemanasan seksual seperti ini hanya membuang-buang waktu belaka. Padahal Teh Ratni dan Teh Rini pun hanya wanita biasa yang butuh sensasi-sensasi baru dalam kehidupan seksual mereka. Uups, Teh Rini? ya, Teh Rini pun begitu haus akan rangsangan-rangsangan nakal seperti ini. Insya Allah nanti saya akan ceritakan kisahnya.

Dan saat ini, seorang ikhwan yang telah mempunyai isteri dan anak, bertubuh tegap, macho, dan berwajah rupawan sedang berlutut di bawah kaki Nyai Ratni dan menjilat-jilat serta menghisap-hisap jari-jemarinya yang indah. Hal itu seolah menghapuskan rasa dahaga Nyai Ratni akan aktivitas seksual yang sedikit di luar kebiasaan. Tanpa terasa, vagina suci miliknya telah berdenyut-denyut kecil dan terlontar desahan dan erangan penuh luapan syahwat dari bibir indahnya, “Ssaaa…aakkkhhhh…Mas Tatang, enak sekali kulumanmu….,”

Nyai Ratni pun bertekad akan menundukkan diri sehina mungkin di depan lelaki yang telah bangkitkan gairah masa mudanya yang haus akan seks.

Tanpa terasa, Tatang telah mengangkangi tubuh mungil istri idaman itu di atas sofa. Ia telah menyingkapkan jubah putih Nyai Ratni hingga pinggang. Kini paha mulus dan berisi serta betis yang membujur indah yang selalu dijaga dari pandangan orang itu telah terekspos bebas dan telah dibanjiri air liur bekas jilatan Tatang. Ya, Tatang telah selesai menyapu bersih sepasang paha dan betis indah seorang Nyai Ratni, isteri Ustadz Haji yang selama ini hanya ada dalam lamunan joroknya dan menghisap sejumlah besar air maninya yang habis ketika bermasturbasi menkhayalkan bersetubuh dengan maswat itu.

“Nyai kepanasan ya? Tatang lepas aja ya jubahnya…” Nyai Ratni tidak segera menjawab. Ia hanya memejamkan matanya sambil berdehem ringan yang langsung diartikan Tatang sebagai izin. Dalam hati wanita sholehah itu tersadar akan dosa dan zina yag ia lakukan.

Bagaikan terkejut, seolahia diingatkan akan dosa zina ini. Sesaat ia diam dan beristighfar.

“Astaghfirullah…Astaghfirullah… ia memohon ampun atas dosa ini. Hanya sedetikia tersadar dari dosa ini.
Karena desakan syahwat yang melanda dirinya tak mampu dilawannya. Ia tak sanggup menahan amuk birahi yang melanda. Ia pun kembali larut dalam perzinaan yang nikmat dan syahdu.

Dalam sekejap, jubah putih ummahat itu telah tergeletak di atas lantai meninggalkan pemiliknya tanpa busana, hanya jilbab kuning, bra putih dan celana dalam putih berenda yang tersisa menutupi tubuh indah Nyai Ratni. “Nyai, tubuh Nyai indah banget, putih, mulus, beda banget sama punya isteri saya. Memek Nyai juga pasti lebih indah dan lebih legit!”

“mas…Tatang, malu neh. Jilbabnya gak dilepas sekalian?” Nyai Ratni mulai membuka mata dan membalas perkataan-perkataan cabul Tatang.

“Nggak usah, Nyai. Tatang lebih suka Nyai pakai jilbab itu. Lebih cantik dan lebih anggun. Jadi lebih semangat buat merasakan manisnya tubuh ustadzah kayak Nyai.”

“Panggil aku Nyai saja ya Tatang. Mau kan”

“Iya deh, Nyaii sayang. Kamu kok binal banget sih. maswat binal kayak kamu tuh cocoknya dientot tiap hari sama kontol gede ku. Ya, masirnya sang ustazah itupun kehilangan sifat-sifatnya yang santun dan alim. maswat sunda itu telah menjelma sebagai maswat binal dan sundal (bukan sunda lagi).

Ruangan sempit itu, juga busana muslimah Nyai Rini yang telah berserakan di lantai semua telah terjadi. Seolah busana muslimah yang sehari-hari dipakai sang ustazah itu menjadi saksi atas perzinaan pemiliknya. Begitu juga jilbab yang masih dipakai Nyai Ratni, seakan menjadi saksi bisu atas perbuatan dosa ini.

Mau lihat kontol Tatang gak? Banyak bulunya lho…” Kata-kata cabul Tatang membuat Nyai Ratni tambah terangsang. Ia tak memperdulikan lagi bahwa Tatang adalah suami orang.

“Mas Tatang….Mau dunk. Kasih lihat kontol kamu sama Nyai dong.”

“Apa Nyai? Tatang nggak denger. Coba ulangi lagi?” Tatang pun memancing rasa penasaran ummahat yang sudah setengah telanjang itu dengan menyodorkan daun telinga sebelah kanannya. Syahwat Nyai Ratni pun makin berkobar melihat tingkah Tatang yang seperti mempermainkan dirinya.

Dengan birahi terbakar dan siap meledak, Nyai Ratni meraih telinga Tatang san berbisik lembut, “Tatang sayang….kasih liat dong kontol kamu sama Nyai. Nanti Nyai kasih liat memek Nyai deh, mau ga? Nyai Ratni merasa begitu terhina dengan tindakannya sendiri. Ia merasa harga dirinya telah tercabik-cabik di depan ikhwan perkasa ini. Ia langsung terkapar lemah sedangkan Tatang malah makin bersemangat mendengar bisikan luapan syahwat ustadzah alim yang telah menunjukkan kebinalannya itu telah ikhlas sepenuh hati merelakan bagian paling sensitif dan paling suci miliknya untuk dijamah Tatang.

“Iya deh Nyai Sayang. Ini Tatang buka kejantanan Tatang, habis Nyai maksa teruz sih” Tanpa butuh waktu lama, Tatang, sang suami shalih yang merupakan kepala divisi dakwah di stasiun radio tersebut, telah menelanjangi dirinya sendiri. Ia hadapkan kontolnya yang telah menegang dan mengangguk-angguk seksi itu pada wajah ummahat shalihah di depannya. Ia sorongkan seonggok daging berurat yang berdiameter 5 cm dan panjang yang lebih dari 20 cm serta berkepala kemerahan bekas sunat itu pada bibir Nyai Ratni.

Tatang tersenyum melihat Nyai Ratni yang terkagum-kagum melihat batang kemaluannnya. Ustazah cantik itu menelan ludah, sementara kontol Tatang menganggguk-angguk tepat di dekat wajah sang ustazah. Nyai Ratni menjulurkan tangan menggapai batang perkasa itu…. dan….Tatang mendesis sshhhh………
Nyai, bolehkah aku menyentuh memek Nyai ?
Tangan Tatang turun ke bawah meraih bawah perut Nyai Ratni, turun lagi, dan mengusap-usap gundukan daging yang terletak di bawah perut sang ustazah.

“Ya Allah….. Nyai Ratni……empuk sekali memek Nyai…”
Nyai Ratni yang masih mengenakan jilbab itu memejamkan mata menikmati usapan-usapan lembut di kemaluannya.

Cukup lama tangan Tatang bermain-main di kemaluan Nyai Ratni. Tangan Tatang yang telah terlatih begitu lembut mengusap-usap daging empuk aurat milik sang ustazah. Dibelai-belai, dan diremas secara ritmis nan lembut, membuat Nyai Ratni tak mampu lagi bertahan.

Pertahanannya runtuh total. Iman nya pun jebol.
Kesetiaan yang selama ini menjadi pagar dirinyapun tak lagi diingatnya.
Seratus persen Nyai Ratni telah berniat menuntaskan perzinaan terlarang ini.

Di ruangan yang sempit itu, seorang muslimah suci telah melepaskan jubah putih sehingga
telanjang di hadapan seorang lelaki yang bukan suaminya. Hanya jilbab yang masih tersisa di kepalanya.
Dan sang lelaki bernama Tatang itu terus membangkitkan birahi sang ustazah, terus mengusap dan membelai-belai daging empuk di bawah perut Nyai Ratni. Tangannya masuk ke dalam celana putih berenda milik sang ustazah. Dengan kelima jari yang seolah bekerja secara kompak, jari-jari itu menggelitik setiap inci daging montok itu. Sementara si Nyai cantik berjilbab itu merintih-rintih menahan nikmat.

maswat Sunda(l) itu telah menjadi maswat binal yang haus akan sex, dan sang maswat cantikjelita itu telah bertekad untuk menuntaskan perzinaan yang syahdu ini.

“Oh Nyai Ratni… oh Nyai.., memek kamu indah banget Nyai?” Tatang membisik

“Mas Tatang…oughh……..”, hanya desis lirih yang keluar dari mulut sang Ustazah cantik itu.
“Nyai Ratni… bolehkah kontolku mengentoti memekmu Nyai?”
“Ouhh…apa mas Tatang?”, nafsu birahi membuat Nyai Ratni tak begitu jelas mendengar kata-kata Tatang.
“Bolehkah kontolku mengentoti memek, Nyai?”, Tatang mengulang kalimatnya.
"Oh, iya mas Tatang, segera entoti aku...oh...mas entot memekku...oh entoti memekku .."

Dan jilbab suci sang ustazah , menjadi saksi atas perzinaan itu. Begitu pula dengan busana muslimah yang berserakan di lantai yang sedari tadi lepas dari tubuhnya. Andaikan saja jubah putih yang tergolek dilantai itu punya mata dan telinga, pasti bisa ikut menikmati persenggamaan dan perzinaan yang sedang dan akan dilakukan oleh pemiliknya.


Nyai Ratni yang telah dimabuk birahi itu begitu penasaran akan sebatang kontol yang mengangguk-angguk penuh nafsu di hadapannya. Ia pun mulai mengelus-elus kontol yang telah begitu tegang itu dengan tangannya yang lembut. Entah sadar atau tidak, tangan kanan Nyai Ratni bergerak dari depan ke belakang berkali-kali dengan tempo sedang. Ini membuat semacam kocokan yang makin membangkitkan gairah Tatang yang sudah telanjang bulat.

Demi merasakan kocokan lembut ummahat berkacamata itu, Tatang semakin ditenggelamkan oleh birahinya sendiri. Ia letakkan lututnya di atas sofa dan memajukan penisnya yang begitu bergejolak sehingga menyentuh bibir merah muda ustadzah shalihah itu. JIlbab kuning panjang Nyai Ratni terlihat sedikit basah akibat keringat yang mulai mengucur sehingga menampakkan dengan jelas body indahnya pada Tatang. “Ayo dong, Nyai sayang….Masukin kontol Tatang ke dalam mulut indah Nyai. Tatang boleh kan ngentotin mulut Nyai? Akkhhh… Ayo Nyai, gedean mana sih kontol Tatang sama punya suami Nyai?” Gesekan-gesekan pergelangan tangan Nyai Ratni di bulu kemaluan Tatang yang hitam, keriting, dan lebat itu membuat Tatang gemetar bukan kepalang.

“Iya sayang…masukin aja kontol kamu ke mulut Nyai, Nyaii pengen banget ngemut kontol kamu. Habisnya punya kamu jauh lebih besar dan lebih panjang daripada punya suami Nyai.”

“Duh, kamu kok ngomongnya begitu sih Nyai….Kamu ustadzah dan ummahat tapi omongannya kayak pelacur. Kontol aku kan bau banget.” Tatang semakin puas menghina isteri pertama Ustadz kondang yang dipuja banyak orang itu. Kata-kata kotor terus keluar dari bibir Tatang sementara tangannya memegangi kepala Nyai Ratni yang terbungkus jilbab bagai memegangi kepala PSk pinggir jalan.

“Nggak apa-apa Tatang sayang…Nyai suka kok kontol bau!” tanpa pikir panjang lagi, Nyai Ratni langsng memasukkan kontol Tatang yang besar bukan main dengan gerombolan urat di batangannya yang telah membiru ke dalam mulutnya. Ia telan bulat-bulat kontol yang telah berlendir di ujungnya itu, menunjukkan betapa terangsangnya pemiliknya.

“Terus Nyai…OOhhh, ternyata kamu doyan sama kontol gede ya?” Tatang terus mendesah dan mengerang menikmati mulut dan lidah ummahat sekelas Nyai Ratni yang sedang memanjakan kemaluannya. Sementara itu Nyai Ratni pun tak bisa berbuat apa-apa saking asyiknya ia mengulum kejantanan pria shalih di hadapannya. “OOhh, Nyai sayang…begini yoh rasanya ngentot mulut Nyai.”

“Begitu panasnya permainan kedua insan ini, di mana Nyai Ratni tampak begitu lihai mengoral penis Tatang sampai Tatang terheran-heran karenanya. 10 menit kemudian, Tatang merasa gejolak nafsu di kontolnya sudah tak tertahankan lagi. “Nyai lonteku…..mana janjimu tadi, katanya mau kasih liat memek kamu!”

Seperti robot yang selalu menurut apa kata tuannya, Nyai Ratni langsung memelorotkan celana dalamnya yang ternyata telah dibanjiri cairan cintanya akibat rangsangan-rangsangan yang dilancarkan Tatang betubi-tubi. Tak lupa ia tanggalkan pula bra putihnya hingga bagian-bagian paling vital dan sensitif itu tersingkap sudah. “Tatang sayang, Nyai udah telanjang neh…..Entotin Nyai ya, Nyai lagi horny banget neh…”

Mendengar pengakuan jujur itu, darah Tatang langsung menggelegak. Berarti pagi ini ia akan menikmati manisnya kemaluan seorang isteri yang begitu alim ini lengkap dengan butir-butir ovum yang hangat, baru saja matang, dan pastinya siap untuk dibuahi beteteh-beteteh sperma yang begitu kental miliknya.

“Nyai, kamu mau aku hamilin…?” Bisik Tatang lembut di telinga Nyai Ratni.

Nyai Ratni pun menjawab tak kalah lembutnya, “Mau sayang…..entotin Nyai sampai sampai puas kagak bakaln hamil.” Tatang langsung mengambil posisi mengangkangi pinggul sang Nyai pujaannya. Ia singkap sedikit bulu kemaluan ummahat yang cukup lebat itu karena belum sempat dicukurnya. Dibelahnya sedikit demi sedikit memek suci nan harum itu hingga ia melihat dengan jelas lapisan merah muda dengan butiran sebesar kacang menggantung di atasnya. “Akkhh…Tatang, cepet masukin kontol kamu. Entotin aja Nyai sepuasmu…”

Seperti tak ingin cepat mengmasiri kenikmatan ini begitu saja, Tatang hanya mamarkir kepala kontolnya yang menggunung itu di sela-sela rerumputan hitam yang menutupi gundukan bukit menggemaskan milik seorang ustadzah terkenal itu. Sebagai gantinya, ia merapatkan dadanya ke payudara Nyai Ratni dan menggesek-gesekkannya. Tak lupa payudara montok dan kencang itu walau tak begitu besar ia remas-remas sambil sesekali memelintir putingnya yang kecoklatan.

“Aakkkhhhh….Tatang sayang” Nyai Ratni serasa menenggak anggur merah ketika diperlakukan seperti itu. Ia telah mabuk dalam kubangan nafsu kebinatangan yang terlarang akibat birahinya sendiri. Tatang, yang sekalipun shalih dan bertubuh tegap, namun tetap saja sebenarnya ia tak boleh menikmati manis dan harum tubuh dan alat seksual ummahat itu. Namun kini, Tatang tengah menumpahkan birahi jalangnya pada tubuh indah nan seksi ummahat itu. Gilanya lagi, Nyai Ratni bukannya berontak atau menghindar, namun ia malah mengizinkan bahkan memaksa Tatang untuk berbuat cabul pada dirinya. Bahkan gesekan-gesekan kontol Tatang pada bibir vaginanya membuatnya begitu tersiksa. Bagai kesetanan, Nyai Ratni langsung memeluk tubuh Tatang yang mulai basah akan keringat erat-erat dan mencakar-cakari punggung ikhwan perkasa itu, “Sialan kamu Tatang….cepet masuki kontol kamu ke memek aku. Entotinsayaaaaaaannnggg…..!”

“Duh, kok omongan Nyai kayak pelacur gini sih. Kamu kan ummahat shalihah, jilbab kamu aja panjang banget gini.”

“Iya aku pelacur sayang….aku perek jalang, aku budak seks kamu. Cepet yang…..ayo ngentot sama Nyaii, genjoti memek Nyai keras-keras…”

Tak mau membiarkan bidadari berkacamata itu lebih tersiksa lagi, Tatang pun menurunkan pinggulnya perlahan. Tanpa harus diperintah lagi, kepala kontol yang cukup besar itu mulai beraksi membelah vagina yang telah melahirkan beberapa orang anak itu. “Nyai…memek Nyai kok anget banget sih. BEda sama punya isteri Tatang….Tatang suka banget memek Nyai, OOOOhhhh…telen kontol Tatang dong pake memek Nyai.”

Entah kenapa Tatang kembali memanggil Nyai Ratni dengan sebutan Nyai. Mungkin menurutnya, kata ‘Nyai’ terdengar lebih erotis daripada kata ‘Ratni’. Dan itu terbukti, Nyai Ratni yang semula sedikit pasif, kini aktif kembali. Dengan kelamin yang sudah berkedut-kedut tak karuan, dan daraf sensualnya yang terus berkontraksi, Nyai Ratni mulai menghisap-hisap kontol Tatang yang berusaha menyeruak ke dalam rongga vagina yang sebenarnya haram buatnya.Nyai Ratni pun kembali mendesah-desah binal seolah memberi semangat pada Tatang untuk segera menyetubuhinya. Setelah beberapa saat mengempot-negmpot kepala dan batang kontol Tatang, Nyai Ratni pun dapat merasakan kejantanan yang lebih besar daripada yang biasa ia layani sebelimnya itu menerobos masuk ke dalam organ vitalnya.

“Akkhhh…Nyai….Tatang masuk, Nyai. Bismillahir Rahmannir Rahiiiiiiiiiiiimmmmmm.” KOntol Tatang pun langsung amblas dalam hangatnya rongga kelamin Nyai Ratni. “Nyai ikhlas kan saya entot?”

Nyai Ratni langsung menggeletar ketika merasakan sebatang penis dengan kehangatan dan ukuran yang jauh berbeda dari milik suaminya tercinta, memenuhi rongga memeknya. Rasa kenikmatan itu terus menjalar ke seluruh tubuh, apalagi ketika Tatang menarik kontol yang begitu ia banggakan itu disertai hentakan keras menekan dinding kemaluan suci itu setelahnya, hingga si empunya sampai menggelinjang dan mengangkat dadanya tinggi-tinggi. “Nyai ikhlas kok yang……Nyai ikhlas dientot sama kamu” Tatang mulai melakukan kocokan erotis pada vagina mungil Nyai Ratni itu berkali-kali hingga Nyai Ratni tak mampu membuka matanya saking nikmatnya genjotan Tatang. Apalagi tak henti-hentinya Tatang meremas-remas peyudaranya dan melumat bibirnya yang merah muda. “OOOhhh…ampun Tatang. Ennnaaakkkk bangeeeettt…..entoti Nyai truz sayaaaannngg….” Ummahat itu begitu histeris ketika Tatang meningkatkan tempo genjotannya. Untungnya, teriakan binal ummahat yang begitu keras itu langsung diredam Tatang dengan bibirnya agar tak terdengar keluar.

Ternyata urat-urat di batang kontol Tatang telah benar-benar membuat Nyai Ratni menjadi gila. Ia pun turut menaik turunkan pinggul dan pantatnya yang montok seirama dengan goyangan erotis Tatang. Keduanya telah sama-sama bercucuran keringat saat Nyai Ratni melingkarkan kakinya di pinggul Tatang sehingga ikhwan itu semakin mudah melesakkan kontol hitam legam nan besar miliknya ke dalam kemaluan menggemaskan milik ustadzah yang telah begitu binal itu, “OOOhhh….ooohh….yes….Nyai gila, memeknya unstadzah legit banget euy….Tatang doyan ngentotin Nyai…”

Setelah sekitar 30 menit digagahi oleh Tatang dengan liarnya, gelora birahi Nyai Ratni hampir sampai di puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Ia mulai meracau dan berteriak-teraik tak karuan, nafasnya sudah begitu memburu demi menatap kemaluannya yang cantik itu dipompa tanpa ampun oleh ikhwan yang tak henti-hentinya menghembuskan nafasnya yang panas dan penuh gairah ke wajah Nyai Ratni. “OOhhh…Tatang. Nyai mau keluar lagi neh…..semprot memek Nyai pake peju kamu dong yang anget n lengket…..ampuni Nyai Tatang……”

Tatang pun menambah intensitas genjotannya pada vagina yang masih begitu sempit dan hangat itu ia rasakan. Ia merasa nafsu iblisnya telah hampir sampai di batas maksimal. Dan begitu Tatang merasakan derasnya gelombang yang menjalari batang kemaluannya……ia pun mendekap tubuh sang ummahat idaman dan melesakkan kontolnya sedalam mungkin.

“Aaaaaaaaakkkkkkkkkkhhhhhhhhhh……rasain Nyai peju Tatang, Dasar Nyai pelacur jalang……..”

“Crrrrroooooootttt…..cccrrrooooottt…” Semburan lava panas nan lengket itu pun menghentak-hentak menghantam dinding memek Nyai Ratni sehingga mebuat benteng birahi ustadzah berjilbab panjang itu hancur lebur. Ia balas memeluk Tatang dan mencakar-cakari apa saja yang ia bisa raih dari tubuh Tatang. Tubuhnya berkelojotan dan menggelinjang bagai seekor anjing betina yang sedang disemprot air mani si jantan. Dan masirnya….Nyai Ratni pun melepaskan cairan cintanya yang paling suci dan paling penuh dengan ovum hingga ia terkulia lemas tak bertenaga.

Seiring dengan terlepasnya cairan cinta keduanya, Tatang pun langsung roboh di atas tubuh Nyai Ratni. Dengan penis yang masih bersarang di memek Nyai Ratni seraya menyemprotkan kedutan kedutan kecil penghabisan, Tatang pun menciumi wajah Nyai Ratni sebagai ucapan terima kasih. Ia merasa sedikit bersalah karena telah merusak kehormatan dan kesucian seorang Nyai Ratni yang tampak menggulirkan setetes air mata dari sudut matanya. Semsntara itu, pasangan zinanya itu kini telah tak sadarkan diri setelah dipuaskan sepuas-puasnya oleh kuda binal berkontol panjang itu. Segaris senyum tersungging di bibirnya menyiratkan perasaan hatinya yang begitu bahagia.Keduanya pun terus berpelukan bagai tak mau dipisahkan hingga adzan zhuhur membangunkan keduanya.

TAMAT